Lockdown Wuhan Diperlonggar, Warga Gembira Setelah 3 Bulan ‘Terkurung’

loading…

WUHAN – Kegembiraan membuncah di tengah penduduk Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, setelah peraturan lockdown akibat virus corona atau Covid-19 diperlonggar. Mereka memuji upaya pemerintah lokal yang bertindak agresif dan bertanggung jawab.

Tingkat penyebaran Covid-19 di Wuhan, pusat wabah virus, telah melambat, bahkan mencapai titik nol pada akhir bulan ini. Dengan perkembangan yang positif, Pemerintah China memperlonggar peraturan lockdown di wilayah itu. Wuhan diisolasi dari wilayah lain dan luar negeri setidaknya sejak 22 Januari silam.

Sampai kemarin, kota berpenduduk 11 juta jiwa itu tercatat menyumbangkan sekitar 60% dari total pasien Covid-19 di China yang mencapai 81.517 orang. Hampir sekitar 90% pasien sudah sembuh, sisanya masih dirawat atau meninggal dunia. Di satu sisi, warga lokal senang, tapi di sisi lain, mereka sedih. (Baca: Awal April, China Cabut Status Lockdown di Wuhan)

Baca Juga:

”Saya ketakutan dengan wabah virus ini,” kata seorang pedagang buah-buahan di pasar tradisional Wuhan, Fang kepada Reuters. Pasar tempat Fang bekerja diyakini sebagai titik awal virus berpindah dari hewan liar ke dalam tubuh manusia. Atas laporan itu, pasar yang sudah berdiri bertahun-tahun tersebut ditutup.

Fang mengatakan, lockdown telah berhasil mengendalikan dan mencegah virus menyebar lebih luas. Namun, dia juga kehilangan pendapatan selama tiga bulan. Seperti dilansir Reuters, sebuah pusat grosir buah-buahan besar yang berdekatan dengan pasar telah menelan kerugian hingga 100.000 yuan (Rp230 juta). Secara umum, reaksi warga lokal bermacam-macam. Sebagian mengaku senang dan puas dengan upaya Pemerintah China, sedangkan sebagian yang lain mengeluh karena uang bantuan belum cair atau tidak sepadan dibandingkan dengan dampak lockdown. Pemerintah Wuhan akan membuka lockdownpada 8 April.

Pemerintah China telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk meringankan dampak Covid-19 terhadap ekonomi dan berjanji membantu warga Wuhan kembali bangkit. Sejauh ini, Fang mengaku belum mendapatkan kompensasi apa pun. Dia bahkan menangis karena tak mampu menemui anak-anaknya di kampung. (Baca juga: Pengguna Ponsel di China Berkurang 21 Juta, Tewas oleh Corona)

”Saya tidak bisa ke mana-mana, bukan hanya karena lockdown, tapi juga karena tidak punya uang dan telanjur membeli pasokan buah-buahan yang banyak untuk dijual,” kata Fang. Sejumlah pedagang buah-buahan harus menanggung kerugian sendiri setelah barang yang didagangkan membusuk dimakan waktu.

Warga lainnya, Hu Yan fang, seorang pengawas peralatan kesehatan, memiliki pandangan berbeda. Dia menilai lockdown merupakan jalan terbaik untuk meminimalisasikan dampak lebih besar yang tidak dibayangkan oleh orang lain. Dia juga optimistis pemerintah pusat dan masyarakat bisa bahu membahu untuk bangkit.

Sementara, menteri Kesehatan China Ma Xiaowei menyatakan Beijing siap bekerjasama dengan AS dalam memerangi virus corona. Hal itu diungkapkan dalam percakapan dengan Menteri Kesehatan AS Alex Azar.

”China mengembangkan keterbukaan, transparansi, dan tanggung jawab dalam memerangi wabah virus corona,” kata Ma dilansir CNN. Dia juga mengungkapkan China siap berbagi pengalaman dengan AS.

Sedangkan Azar memuji langkah China yang sukses menangkal virus corona. ”Saya sepakat bekerjasama dengan China untuk melindungi kesehatan publik di seluruh dunia,” kata Azar.

Jumlah kasus pasien corona di seluruh dunia telah mencapai 787.000 orang berdasarkan perhitungan Universitas JohnHopkins, sedangkan virus ter -sebut telah menewaskan lebih dari 37.000 orang di seluruh dunia. (Muh Shamil)

(ysw)

BERITA INI TELAH TAYANG LEBIH AWAL DISINDO NEWS

Tinggalkan Balasan